Bakti kepada Orang Tua

25 11 2010

Terdapat banyak ayat yang mendudukkan ridha orang tua setelah ridha Allah dan keutamaan berbakti kepada orang tua adalah sesudah keutamaan beriman kepada Allah. Allah berfirman yang artinya, “Dan Kami perintahkan kepada manusia  kepada dua orang ibu-bapanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah  kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (QS. Lukman: 14). Lihat pula QS. al-Isra 23-24, an-Nisa 36, al-An’am 151, al-Ankabut 08.

 

Ada lima kriteria yang menunjukkan bentuk bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya.

Pertama, tidak ada komentar yang tidak mengenakkan dikarenakan melihat atau tercium dari kedua orang tua kita sesuatu yang tidak enak. Akan tetapi memilih untuk tetap bersabar dan berharap pahala kepada Allah dengan hal tersebut, sebagaimana dulu keduanya bersabar terhadap bau-bau yang tidak enak yang muncul dari diri kita ketika kita masih kecil. Tidak ada rasa susah dan jemu terhadap orang tua sedikit pun.

Kedua, tidak menyusahkan kedua orang tua dengan ucapan yang menyakitkan.

Ketiga, mengucapkan ucapan yang lemah lembut kepada keduanya diiringi dengan sikap sopan santun yang menunjukkan penghormatan kepada keduanya. Tidak memanggil keduanya langsung dengan namanya, tidak bersuara keras di hadapan keduanya. Tidak menajamkan pandangan kepada keduanya (melotot) akan tetapi hendaknya pandangan kita kepadanya adalah pandangan penuh kelembutan dan ketawadhuan. Allah berfirman yang artinya, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. al-Isra: 24)

Urwah mengatakan jika kedua orang tuamu melakukan sesuatu yang menimbulkan kemarahanmu, maka janganlah engkau menajamkan pandangan kepada keduanya. Karena tanda pertama kemarahan seseorang adalah pandangan tajam yang dia tujukan kepada orang yang dia marahi.

Keempat, berdoa memohon kepada Allah agar Allah menyayangi keduanya sebagai balasan kasih sayang keduanya terhadap kita.

Kelima, bersikap tawadhu’ dan merendahkan diri kepada keduanya, dengan menaati keduanya selama tidak memerintahkan kemaksiatan kepada Allah serta sangat berkeinginan untuk memberikan apa yang diminta oleh keduanya sebagai wujud kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya.

Perintah Allah untuk berbuat baik kepada orang tua itu bersifat umum, mencakup hal-hal yang disukai oleh anak ataupun hal-hal yang tidak disukai oleh anak. Bahkan sampai-sampai al-Qur’an memberi wasiat kepada para anak agar berbakti kepada kedua orang tuanya meskipun mereka adalah orang-orang yang kafir.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk  mempersekutukan  dengan  Aku  sesuatu yang  tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan  baik,  dan  ikutilah jalan   orang   yang  kembali  kepada-Ku,  kemudian  hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Lukman: 15)

Syarat Menjadi Anak Berbakti

Ada tiga persyaratan yang harus dipenuhi, agar seorang anak bisa disebut sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya:

Satu, lebih mengutamakan ridha dan kesenangan kedua orang tua daripada ridha diri sendiri, isteri, anak, dan seluruh manusia.

Dua, menaati orang tua dalam semua apa yang mereka perintahkan dan mereka larang baik sesuai dengan keinginan anak ataupun tidak sesuai dengan keinginan anak. Selama keduanya tidak memerintahkan untuk kemaksiatan kepada Allah.

Tiga, memberikan untuk kedua orang tua kita segala sesuatu yang kita ketahui bahwa hal tersebut disukai oleh keduanya sebelum keduanya meminta hal itu. Hal ini kita lakukan dengan penuh kerelaan dan kegembiraan dan selalu diiringi dengan kesadaran bahwa kita belum berbuat apa-apa meskipun seorang anak itu memberikan hidup dan hartanya untuk kedua orang tuanya.

Keutamaan Menjadi Anak yang Berbakti

1. Termasuk Amal yang Paling Allah Cintai

Dari Abdullah bin Mas’ud, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Amal apakah yang paling Allah cintai.” Beliau bersabda, “Shalat pada waktunya,” Aku bertanya, “Kemudian apa?” Nabi bersabda, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya, “Kemudian apa?” Nabi bersabda, “Berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Masuk Surga

Dari Abu Hurairah, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celaka, celaka, dan celaka.” Ada yang bertanya, “Siapa dia wahai Rasulullah?” Nabi bersabda, “Dia adalah orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dalam usia tua, akan tetapi kemudian dia tidak masuk surga.” (HR Muslim)

Dari Muawiyah bin Jahimah dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu, aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bermusyawarah dengan beliau tentang jihad di jalan Allah. Nabi bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” “Ya,” kataku. Nabi pun bersabda, “Selalulah engkau berada di dekat keduanya. Karena sesungguhnya surga berada di bawah kaki keduanya.” (HR. Thabrani, al-Mundziri mengatakan sanadnya jayyid)

3. Panjang Umur dan Bertambah Rezeki

Dari Salman, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali amal kebaikan.” (HR. Turmudzi dan dihasankan oleh al-Albani)

Anas mengatakan, “Barang siapa yang ingin diberi umur dan rezeki yang panjang maka hendaklah berbakti kepada kedua orang tuanya dan menjalin hubungan dengan karib kerabatnya.” (HR. Ahmad)

4. Semua Amal Shalih Diterima dan Kesalahan-Kesalahan Diampuni

Allah ta’ala berfirman: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah . Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai, berilah kebaikan kepadaku dengan  kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS al-Ahqaf: 15-16)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu ada seorang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Sesungguhnya aku melakukan sebuah dosa yang sangat besar. Adakah cara taubat yang bisa ku lakukan?” Nabi bertanya, “Apakah engkau masih memiliki ibu.” “Tidak” jawabnya. Nabi bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki bibi dari pihak ibu.” “Ya,” jawabnya. Nabi bersabda, “Berbaktilah kepada bibimu.” (HR. Tirmidzi)

5. Mendapatkan Ridha Allah

Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ridha Allah tergantung ridha kedua orang tua dan murka Allah tergantung murka kedua orang tua.” (HR. Thabrani dan dishahihkan oleh al-Albani)

6. Diterima Doanya dan Hilangnya Kesusahan

Diantara dalilnya adalah kisah Ashabul Ghar, yaitu tiga orang yang tertangkap dalam goa. Salah satu diantaraa mereka adalah seorang yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Lebih Utama Daripada Hijrah dan Jihad

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ada seorang yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku hendak membaiatmu untuk berhijrah dan berjihad dalam rangka mengharap pahala dari Allah.” Nabi bertanya kepada keduanya, “Apakah diantara kedua orang tuamu ada yang masih hidup.” “Ya, kedua-duanya masih hidup.” Jawabnya. Nabi bertanya, “Engkau mengharap pahala dari Allah?” “Ya.” Jawabnya. Nabi bersabda, “Pulanglah, temui keduanya dan sikapilah keduanya dengan baik.” (HR. Muslim)

8. Orang Tua Ridha dan Mendoakan

Jika seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya, tentu keduanya akan senang, dan pertanda ridhanya kepadanya. Kemudian mendoakannya, sedangkan doa orang tua itu pasti terjawab.

Ada tiga orang yang doanya mustajab dan hal tersebut tidak perlu diragukan lagi. Tiga orang tersebut adalah doa orang yang teraniaya. Doa orang yang sedang bepergian dan doa orang tua untuk kebaikan anaknya. (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh al-Abani)

9. Anak Kita Akan Berbakti Kepada Kita

Sikap bakti adalah hutang, maka sebagaimana kita berbakti kepada orang tua kita, maka anak kita pun akan berbakti kepada kita.

10. Tidak Akan Menyesal

Seorang anak yang tidak berbakti kepada kedua orang tuanya akan merasakan penyesalan ketika keduanya sudah meninggal dunia dan belum sempat berbakti.

11. Dipuji Banyak Orang

Bakti kepada kedua orang tua adalah sifat yang terpuji dan orang yang memiliki sifat ini pun akan mendapatkan pujian. Kisah Uwais al-Qorni adalah diantara dalil tentang hal ini.

12. Merupakan Sifat Para Nabi

Tentang Yahya ‘alaihis salam Allah ta’ala berfirman, “Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.” (QS. Maryam: 14)

Tentang Isa ‘alaihis salam Allah ta’ala berfirman, “Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32)

Tentang Ismail ‘alaihis salam Allah ta’ala berfirman, “Maka tatkala anak itu sampai  berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan  kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (QS. ash-Shaffat: 102)





Hak dan Kewajiban Suami Istri Menurut Islam

24 11 2010

keluarga bahagia

Untuk mepmpererat hubungan suami istri sebaiknya anda membaca artikel hak dan kewajiban suami istri yang dikutip dari buku “Petunjuk Sunnah dan Adab Sehari-hari Lengkap” karangan H.A. Abdurrahman Ahmad.

Insya Allah anda dan pasangan akan lebih indah menjalani kehidupan

Hak Bersama Suami Istri
- Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum: 21)
- Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa’: 19 – Al-Hujuraat: 10)
- Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa’: 19)
- Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)

Adab Suami Kepada Istri .
- Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama. (At-aubah: 24)
- Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah clan Rasul-Nya. (At-Taghabun: 14)
- Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah. (AI-Furqan: 74)
- Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)
- Jika istri berbuat ‘Nusyuz’, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. (An-Nisa’: 34) … ‘Nusyuz’ adalah: Kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah.
- Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
- Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.(Ath-Thalaq: 7)
- Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
- Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)
- Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)
- Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa’: 19)
- Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).
- Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)
- Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)
- Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. (An-Nisa’: 3)
- Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)
- Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)
- Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan berwasiat terlebih dahulu kepada istrinya. (AI-Baqarah: ?40)

Adab Isteri Kepada Suami
- Hendaknya istri menyadari clan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah pemimpin kaum wanita. (An-Nisa’: 34)
- Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat lebih tinggi daripada istri. (Al-Baqarah: 228)
- Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan. (An-Nisa’: 39)
- Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah:
a. Menyerahkan dirinya,
b. Mentaati suami,
c. Tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya,
d. Tinggal di tempat kediaman yang disediakan suami
e. Menggauli suami dengan baik. (Al-Ghazali)
- Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun sedang dalam kesibukan. (Nasa’ i, Muttafaqun Alaih)
- Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk menggaulinya, lalu sang istri menolaknya, maka penduduk langit akan melaknatnya sehingga suami meridhainya. (Muslim)
- Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. Allah swt. mengampuni dosa-dosa seorang Istri yang mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya. (Tirmidzi)
- Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal dunia dalam keridhaan suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi)
- Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi saw.: “Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya. .. (Timidzi)
- Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya. (Thabrani)
- Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami(Thabrani)
- Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya (saat suami tidak di rumah). (An-Nisa’: 34)
- Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: (1) Banyak anak (2) Sedikit harta (3) Tetangga yang buruk (4) lstri yang berkhianat. (Hasan Al-Bashri)
- Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari. (Muttafaqun Alaih)
- Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya. (An-Nur: 30-31)

Isteri Sholehah
- Apabila’ seorang istri, menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramddhan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya, niscaya Allah swt. akan memasukkannya ke dalam surga. (Ibnu Hibban)
- Istri sholehah itu lebih sering berada di dalam rumahnya, dan sangat jarang ke luar rumah. (Al-Ahzab : 33)
- Istri sebaiknya melaksanakan shalat lima waktu di dalam rumahnya. Sehingga terjaga dari fitnah. Shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid, dan shalatnya wanita di kamarnya lebih utama daripada shalat di dalam rumahnya. (lbnu Hibban)
- Hendaknya menjadikan istri-istri Rasulullah saw. sebagai tauladan utama.





Nafkah untuk seorang istri…

24 11 2010

Mengenang kembali peristiwa di Arafah, pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijrah iaitu sebelum kewafatan Rasulullah SAW salah satu wasiat baginda yang disampaikan melalui khutbah Wida’ kepada sekalian umat Islam, iaitu agar kita mengawasi dan memelihara kaum wanita sebagai satu amanah.

Tugas dan tanggungjawab ini, ditujukan khusus kepada kaum lelaki yang berperanan sebagai suami di dalam sesebuah rumahtangga. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, “Takutlah kamu kepada Allah dalam urusan wanita, kerana sesungguhnya kamu telah mengambil mereka dengan amanah Allah.” (Hadis Riwayat Muslim)

Asas kejadian kaum lelaki, dikurniakan oleh Allah dengan kekuatan fizikal, mempunyai pemikiran yang luas dan beberapa kelebihan lain. Sebaliknya kaum wanita diciptakan dengan sifat yang lemah lembut, penyayang dan kurang agresif. Mereka lebih banyak dipengaruhi oleh emosi. Oleh itu sewajarnya kaum lelaki diberi tugas dan tanggungjawab memikul amanah menjadi ketua atau pemimpin yang mengawal serta memberi perlindungan kepada kaum wanita.

Firman Allah SWT maksudnya, “Kaum lelaki itu adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum wanita, kerana Allah telah melebihkan orang lelaki (dengan beberapa keistimewaan) atas orang perempuan, dan juga kerana orang lelaki telah membelanjakan (memberi nafkah) sebahagian daripada harta mereka.” (Surah an-Nisaa’, ayat 34)

Amanah yang dipertanggungjawabkan

Setiap pasangan harus berasa bertanggungjawab sepenuhnya menjalankan tugas masing-masing demi membangunkan keluarga. Bagi lelaki, sebagai ketua dalam negara, pemimpin dalam masyarakat, suami kepada isteri, bapa kepada anak-anak atau sebagainya. Mereka seharusnya memahami hak-hak serta tuntutan kaum wanita yang menjadi kewajipan bagi mereka memperjuangkannya serta membela nasib kaum wanita ini apabila mereka teraniaya.

Sirah Rasulullah SAW telah membuktikan bahawa baginda merupakan pembela kaum wanita yang terulung. Baginda bukan sahaja membawa risalah Islam yang sempurna, bahkan telah berjaya membebaskan kaum wanita dari cengkaman adat jahiliah serta meletakkan kedudukan mereka ke suatu taraf yang begitu mulia.

Namun paling mengecewakan apabila terdapatnya kaum lelaki yang suka mengambil kesempatan di atas kelemahan wanita dan memandang rendah terhadap mereka serta menjadikan mereka mangsa mereka serta menjadikan mereka mangsa penganiayaan.

Pandangan kaum wanita tidak begitu diambil perhatian menyebabkan hak atau kepentingan mereka terhakis. Keadaan ini terjadi disebabkan wujudnya perasaan ego yang tinggi di dalam diri lelaki dan tiadanya kesedaran dalam memikul amanah dan tanggungjawab terutamanya sebagai ketua rumahtangga. Banyak kes-kes seumpama ini berlaku dalam masyarakat, contohnya:

(i) Mengabaikan nafkah (perbelanjaan) isteri.

(ii) Tidak menyediakan tempat tinggal yang sepatutnya.

(iii) Bersikap kasar terhadap isteri.

(iv) Memberi tugas di luar kemampuan isteri.

(v) Menganiaya (mendera) isteri.

(vi) Melimpahkan tanggungjawab dirinya (seorang suami) ke bahu isteri.

Kewajipan Suami Memberi Nafkah (belanja)

Sesungguhnya kewajipan memenuhi keperluan nafkah terhadap isteri tidak hanya terhenti setakat nafkah batin semata-mata tetapi juga nafkah zahir termasuk memberi belanja dan keperluan zahir kepada isteri. Perkara ini telah ditetapkan oleh syarak sebagaimana firman Allah SWT yang maksudnya, “Dan kewajipan suami memberi makanan dan pakaian kepada isteri dengan cara yang baik.” (Surah al-Baqarah, ayat 233)

Takrif nafkah harta (belanja) adalah suatu bahagian daripada harta yang dibelanjakan kepada orang-orang yang dipertanggungjawabkan kepada suami terhadap isterinya. Manakala yang dikatakan harta itu pula mestilah daripada sumber yang halal, iaitu bukan hak anak yatim atau bukan hak orang lain yang disimpan serta ia bukan dari usaha mencuri, rasuah, riba dan sebagainya. Maka harta yang dijadikan nafkah untuk perbelanjaan isteri dan anak-anak mestilah harta yang diperolehi dari jalan yang halal. Harta yang haram tidak boleh dijadikan nafkah.

Sabda Rasulullah SAW yang maksudnya, “Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, nerakalah yang lebih layak baginya.”

Hak Isteri Tanggungjawab Suami

Salah satu daripada hikmah mengapa beban nafkah itu terpikul di bahu suami adalah disebabkan kelebihan lelaki dalam penciptaannya dari segi kekuatan fizikal dan akal fikirannya yang disifatkan sebagai mampu untuk bekerja keras mencari nafkah, memberi pelindungan dan mempertahankan maruah keluarga di mana tidak ada kewajiban bagi isteri untuk mencari nafkah.

Tetapi ini bukanlah bermaksud bahawa Islam telah menggambarkan wanita sebagai orang yang lemah dan hanya membebani lelaki tetapi ia adalah penghormatan Islam kepada wanita sehubungan dengan tugas mereka yang amat kompleks di rumah dalam menguruskan hal anak-anak dan keluarganya.

Oleh itu memberi nafkah ini adalah wajib hukumnya ke atas suami semenjak mula berlakunya pernikahan, meskipun si isteri itu merupakan seorang yang kaya di mana perkahwinan itu sekali-kali tidak akan mengubah kedudukannya bahkan dia tetap mempunyai hak-hak peribadi yang tidak boleh diganggu walaupun oleh suami.

Sedangkan suami tetap bertanggungjawab memberikan nafkah kepada isterinya itu yang merangkumi penyediaan keperluan asas iaitu makanan, pakaian, tempat tinggal yang selesa di samping memberikan wang perbelanjaan untuk menguruskan keperluan diri, anak-anak dan rumah tangga.

Ini adalah berdasarkan kepada keadaan dan kemampuan si suami tersebut dimana isteri yang baik tidak akan ‘merengek-rengek’ meminta sesuatu yang tidak mampu dibeli atau disediakan oleh suaminya sebagaimana yang tersebut didalam al-Quran yang maksudnya, “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya; dan sesiapa yang disempitkan rezekinya, maka hendaklah ia memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya (sekadar yang mampu); Allah tidak memberati seseorang melainkan (sekara kemampuan) yang diberikan Allah kepadanya. (Orang-orang yang dalam kesempitan hendaklah ingat bahawa) Allah akan memberikan kesenangan sesudah berlakunya kesusahan.” (Surah at-Thalaq, ayat 6-7)

Sedekah Yang Diwajibkan

Sesungguhnya Islam menganggap bahawa pemberian nafkah suami kepada isteri itu sebagai satu sedekah di mana Rasulullah SAW menerangkan dalam sebuah hadis baginda bahawa sedekah yang paling baik adalah yang melebihi keperluan. Walhal sedekah ini pula elok didahulukan kepada orang yang dibawah tanggungan si suami itu sendiri yang membawa maksud kepada isteri masing-masing.

Sa’ad bin Abu Waqqash berkata bahawa Rasulullah SAW telah bersabda maksudnya, “Setiap belanja yang engkau berikan demi mencari redha Allah, pasti diberikan pahala, sekalipun yang engkau suapkan ke dalam mulut isterimu.” (Hadis Riwayat Bukhari & Muslim).

Malahan nilai memberi nafkah kepada isteri dan anak itu sebenarnya adalah lebih utama daripada menyumbangkan harta demi perjuangan Islam di mana Rasulullah SAW pernah bersabda yang maksudnya, “Satu dinar yang engkau belanjakan untuk perang di jalan Allah dan satu dinar yang engkau belanjakan untuk isterimu, yang paling besar pahalanya ialah apa yang engkau berikan kepada isterimu.” (Hadis Riwayat Bukhari & Muslim)

Fenomena Masyarakat

Jika ditinjau tentang kehidupan berumah tangga sekarang kebanyakan lelaki lebih gemar memilih perempuan yang berkerjaya sebagai isteri, bukan kerana dia tidak mampu, tetapi pada pandangan mereka jika isteri bekerja, bayaran nafkah termasuk wang belanja dapur dan perbelanjaan–perbelanjaan asas keluarga boleh dikongsi dalam erti kata lain boleh digunakan wang gaji isteri dan diharap boleh melepaskan banyak beban yang sepatutnya menjadi tanggungjawab dirinya.

Dalam hal ini sekalipun masyarakat sudah menganggap perkara tersebut sebagai lumrah kehidupan berumah tangga iaitu berkongsi susah dan senang, namun sebenarnya ia adalah menjadi tanggungjawab suami di mana isteri hanya perlu membantu sekiranya suami didapati tidak mampu dan hal ini telah dijelaskan oleh Islam sebagai satu ibadah yang akan mendapat ganjaran yang besar di sisi Allah SWT.

Hal ini telah disebutkan oleh Rasulullah SAW di mana terdapat sepasang suami isteri, Zainab dan Abdullah bin Mas’ud. Si suami tersebut tergolong dalam golongan fakir, sementara isterinya memiliki harta yang sungguh banyak yang ingin disedekahkan. Maka mereka pun datang menemui Rasulullah SAW dengan ditemani oleh seorang wanita yang juga mempunyai niat yang sama. Ketika sampai di hadapan rumah Rasulullah mereka bertemu Bilal.

Zainab pun berkata, “Katakanlah kepada baginda bahawa ada dua orang perempuan yang akan bertanya apakah cukup kalau harta mereka diberikan kepada suami mereka dan kepada anak yatim di rumah-rumah mereka? Tolong jangan kau katakan siapa kami.”

Bilal pun masuk dan menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah SAW.

Terlebih dahulu baginda bertanya siapakah wanita itu.

Bilal pun berkata, “Seorang wanita Ansar dan Zainab.”

“Zainab yang mana?” Tanya Rasulullah.

“Isteri Abdullah bin Mas’ud.”

Jawab baginda: “Mereka berdua akan mendapatkan dua pahala. Satu pahala ibadah dan satu pahala sedekah.” (Hadis Riwayat Bukhari & Muslim)

Namun kesilapan yang sering dibiarkan berlaku ialah tentang terdapatnya suami yang alpa dan sengaja mengambil kesempatan terhadap isterinya yang bekerja sehingga ada yang hidup dengan hasil pendapatan isteri semata-mata, tanpa melakukan apa-apa kerja.

Sedangkan Islam telah mengingatkan bahawa dalam hal pendapatan isteri, adalah menjadi hak mutlaknya sendiri di mana dia berhak berbuat apa saja terhadap harta pencariannya dan suami tidak berhak untuk mengawal, mengatur, mengambil atau membelanjakan harta tersebut tanpa persetujuannya terlebih dahulu apalagi memaksanya memikul tanggungjawab menanggung keluarga.

Kelayakan Isteri Mendapat Nafkah

Isteri yang layak mendapat nafkah mestilah isteri yang sah atau isteri dalam ‘iddah raj’i atau ‘iddah yang boleh dirujuk kembali, ertinya ialah ‘iddah dari talak satu atau dari talak dua di mana ‘iddah talak tiga tidak berhak diberi nafkah kerana ia adalah talak yang tidak boleh dirujuk kembali.

Oleh itu seandainya isteri tersebut tidak mendapat nafkah yang adil dan mencukupi daripada suami atau dia dikasari oleh suami, maka dia boleh mengemukakan tuntutan atau saman di Mahkamah Syariah kecuali seseorang isteri itu nusyuz (derhaka) kepada suaminya, curang dan sebagainya atau tamat tempoh iddah maka dia tidak berhak untuk mendapat nafkah.

Contoh Pengabaian Nafkah

Terdapat sebilangan suami yang mengabaikan tanggungjawab kerana:

i) Mempunyai isteri yang berpendapatan lebih atau sama dengannya dan suami tersebut menganggap bahawa sudah mencukupi untuk isteri menanggung sendiri perbelanjaan rumah tangga dan dirinya.

ii) Bertujuan untuk mendidik isteri agar tidak menjadi boros.

Menuntut Hak

Apabila isteri menyedari kesilapan yang telah dilakukan oleh suaminya maka si isteri hendaklah:

1. Menasihati suami secara lemah-lembut dan bersopan tentang tanggungjawabnya atas dasar tidak mahu menderhaka kepadanya.

2. Mencari orang ketiga yang boleh dipercayai dan dihormati untuk menyedarkan kesalahan suami.

3. Merujuk kepada mahkamah syariah.

Begitupun Islam mengharuskan si isteri mengambil haknya meskipun tanpa pengetahuan suami (sekiranya keadaan sudah terdesak) kerana pernah diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahawa Abu Sufyan iaitu seorang sahabat Rasulullah SAW yang cukup kaya, bersifat terlalu kedekut dalam memberikan nafkah (belanja) kepada isterinya sehingga isterinya nekad mencuri wang suaminya.

Hindun, isteri Abu Sufyan itu mengkhabarkan halnya ini kepada Rasulullah SAW. “Sungguh Abu Sufyan adalah orang yang kikir (kedekut). Ia tidak memberiku belanja yang mencukupi bagi diriku dan anaknya, sehingga aku terpaksa mengambil hartanya tanpa pengetahuannya.”

Rasululah menjawab, “Ambillah sebanyak mana yang mencukupi dirimu dan anakmu dengan wajar.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kesimpulan

Sebuah hadis mengatakan yang di antara maksudnya, “Rasulullah SAW bersabda… seorang lelaki adalah pemimpin atas keluarganya. Dia akan ditanya tentang kepimpinannya…” (Hadis Riwayat Muslim)

Maka di sini seorang suami akan diminta bertanggungjawab tentang ahli keluarga yang di bawah tanggungannya termasuklah urusan pemberian nafkah. Oleh itu, sebagai ketua keluarga, sama ada isteri meminta atau tidak, memberi nafkah tetap menjadi tanggungjawab seorang suami kerana sesungguhnya Rasulullah SAW amat membenci umatnya yang bersifat bakhil terutama kepada pasangan yang telah melahirkan zuriatnya malah sifat bakhil ini juga adalah termasuk bagi orang yang tidak menggunakan tenaganya untuk berusaha mencari nafkah untuk diri dan keluarganya. Sebaliknya mengharap isteri bekerja untuk menyara kehidupan rumah tangga mereka.

Golongan ini akan dibalas dengan berbagai-bagai ancaman di akhirat kelak di mana baginda ada bersabda dalam sebuah hadisnya bahawa orang bakhil itu jauh daripada Allah, jauh daripada syurga, dan pergaulan manusia, sebaliknya dekat dengan api neraka.

Manakala orang yang dermawan itu dekat kepada Allah, dekat kepada syurga, dekat dengan manusia dan jauh dari api neraka. Maka sewajarnya seorang suami yang benar-benar bertanggungjawab pasti akan dapat melahirkan suasana damai dan harmoni dalam rumah tangga. Tidak akan berlaku masalah ketidakadilan, penganiayaan dan sebagainya.





PERSIAPAN untuk KELAHIRAN ANAK PERTAMA

8 11 2010

Setelah kehamilan selama 9 bulan yang mengagumkan, kini tiba saatnya menimang bayi Anda. Menjadi ortu adalah suatu perubahan yang menyenangkan, tetapi juga dibutuhkan waktu untuk merasa nyaman dan aman dengan peran baru tersebut. Berikut ini adalah tips merawat bayi dan anak yang mudah diterapkan dan bisa jadi masukan untuk para ortu baru. [ akan dibagi menjadi sub-sub topik. Semoga bermanfaat, khususnya bagi Mama baru …. Jia you! ] PERSIAPAN untuk KELAHIRAN ANAK PERTAMA Apa saja yang HARUS dimiliki [untuk bayi]: 1. Tempat tidur bayi / Box bayi 2. Selimut lilit / Bedong 3. Selimut + Pelindung Kepala 4. Bantal Cekung 5. Pakaian Bayi [Tali ikat] 6. Gurita 7. Popok [Kain or Popok Sekali pakai untuk New Born] 8. Kaos Kaki & Sarung Tangan 9. Topi 10. Lemari Pakaian 11. Bak Mandi bayi 12. Sabun, Shampo, Baby Oil, Cream Kulit, Bedak 13. Handuk Lembut 14. Wash Lap 15. Kapas Bulat 16. Cotton Bud 17. Minyak Telon 18. Minyak Kayu Putih asli/khusus bayi [alkohol free] 19. Alkohol 70% 20. Kain Kassa 21. Botol Susu [+/- 4 pcs] 22. Sterilizer





Checklist Persiapan Melahirkan

8 11 2010
Usia kandungan Anda sudah memasuki 9 bulan? Wah, saatnya siap-siap! Bagi Anda yang baru hamil anak pertama, mungkin masih gamang apa saja yang harus disiapkan menjelang kelahiran nanti. Tenang. Kami punya panduan yang semoga dapat menolong calon ibu, ayah dan bayi menjelang hari ‘H’ nanti. Intip ya:
Persiapan calon ibu
l
Setagen/korset (untuk mengencangkan perut setelah melahirkan)
l
Pembalut khusus melahirkan (jika terlupa, biasanya rumah sakit menyediakannya)
l
Bra khusus menyusui dan breast pads
l
Majalah khusus ibu dan anak, novel, iPod atau MP3 untuk teman menunggu proses persalinan
l
Ponsel serta daftar nomor telepon penting
l
Susu khusus untuk ibu menyusui
l
Baju berkancing depan (persiapan menyusui bayi)
l
Pemompa ASI
l
Peralatan mandi, baju ganti serta make up (Anda ingin terlihat tetap cantik pasca melahirkan kan?)
Persiapan calon ayah
u
Jam untuk menghitung waktu kontraksi (jika kontraksi makin sering, segera bawa istri ke rumah sakit!)
u
Handycam untuk merekam proses persalinan
u
Baju ganti calon ibu dan ayah
u
Peralatan mandi
u
Kartu kredit/dana cash/kartu debit/kartu asuransi (Jangan sampai saking paniknya alat pembayaran sampai terlupa!)
u
Majalah, iPod atau MP3 untuk teman menunggui istri
Persiapan untuk bayi
z
Alkohol dan kassa
z
Popok/gurita, diapers
z
Sarung tangan/kaki, kain bedong/selimut bayi
z
Kelambu dan tas bayi
z
Baju, celana, topi bayi
z
Bantal/guling bayi
z
Sisir, peniti, pemotong kuku, tempat bedak, cotton buds
z
Washlap, sabun dan shampo bayi
z
Baby oil/minyak telon
z
Botol susu ukuran S







Follow

Get every new post delivered to your Inbox.